Jumat, 25 Desember 2009

PENGERTIAN FILSAFAT

A. Pengertian Filsafat
Kata ‘Filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “Philos” dan “Sophia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalam, dan Sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi, arti filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearafin atau kebijakan. Istilah filsafat sering dipergunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam penggunaan secara populer, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu), dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Secara populer misalnya kita sering mendengar : “saya tidak suka terhadap filsafat ands tentang bisnis”, “pancasila merupakan satu-satunya filsafat hidup bangsa Indonesia”. Henderson (1059 : 16) mengemukakan : “populary, philosophy means one’s general veew of life of men, of ideals, and of valies, in the sense everyone has a philosophy of life”.
Di jerman di bedakan antara filsafat dengan pandang hidup kritis yang sangat mendalam sampai keakar-akarnya. Dalam pengertian lain, filsafat diartikan sebagai interprestasi atau evalusi terhadap apa yang penting atau yang berarti dalam kehidupan. Di pihak lain ada yang beranggapan bahwa filsafat sebagai cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan yang tidak memiliki kegunaan praktis. Ada pula yang beranggapan, bahwa para filosof telah bergantung jawab terhadap cita-cita dan kultur masyarakat tertentu. Seperti halnya Karl Marx dan Federick Engels telah menciptakan komunisme. Thomas Jefferson dan John Stuart Mill telah mengembangkan suatu teori yang dianut dalam masyarakat demokratis. John Dewey adalah peletak dasar kehidupan pragmatis di Amerika.
Filsafat dapat dipelajari secara akademis, diartikan sebagai suatu pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya (radix) mengenai segala sesuatu yang ada (wujud). “philosophy means the attempt to conceive and present inclusive and systematic view of universe and man’s in it”. (Herderson, 1959:16). Demikian Herderson mengatakan. Filsafat mencoba mengajukan suatu konsep tentang alam semesta secara sistemtis dan inklusif dimana manusia berada di dalamnya. Oleh karena itu, filosof lebih sering menggunakan intelegensi yang tinggi dibandingkan dengan ahli sains dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya.
Filsafat dapat diartikan juga sebagai “Berpikir reflektif dan kritis’ (reflektif and critical thinking). Namun, Randall dan Buchler (1942) memberiakan kritik terhadap pengertian tersebut, dengan mengemukakan bahwa defenisi tersebut tidak memuaskan karena beberapa alasan, yaitu : 1) tidak menunjukan karakteristik yang berbeda antara berpikir filosofi dengan fungsi-fungsi kebudayaan dan sejarah, 2) para ilmuwan juga berpikir reflektif dan kritis, padahal antara sains dan filsafat berbeda, 3) ahli hukum, ahli ekonomi, juga ibu rumah tangga sewaktu-waktu berpikir reflektif dan kritis, padahal mereka bukan filosof atau ilmuan.
Dalam Al Quran dan budaya Arab terdapat istilah “hikmat” yang berarti arif atau bijak. Filsafat itu sendiri bukan hikmat, melainkan cinta yang sangat mendalam terhadap hikmat. Dengan pengertian tersebut, maka filosof ialah orang yang mencintai dan mencari hikmat dan berusaha mendapatkanya. Menurut Al Syaibany (1979), hikmat mengandung kematangan pandangan dan pikiran yang jauh, pemahaman dan mengamatan yang tidak dapat dicapai oleh pengetahuan saja. Dengan hikmat filosof akan mengetahui pelaksanaan pengatahuan dan dapat melaksanakannya.
Selanjutnya Al Syaibany mengemukakan bahwa hikmat yang dicintai oleh filosof dan selalu berusaha mencapainya mengandung lima unsur, yaitu universal, pandangan yang luas, cerdik, pandangan perenungan (meditative, spekulatif), dan mengetahui pelaksanaan pengetahuan tersebut atau pengetahuan yang disertai dengan tindakan yang baik. Jadi, filosof atau orang arif memiliki pandangan yang serba mungkin sebatas kemampuannya. Oleh sebab itu, ia memperthitungkan segala pandangan yang mungkin. Ia tidak akan puas dengan satu aspek atau satu pengalaman saja. Filosof akan memperhatikan semua aspek pengalaman manusia. Ia memiliki keistimewaan. Pandangannya luas sehingga memungkinkan ia melihat segala sesuatu secara menyeluruh, memperhitungkan tujuan yang seharusnya. Ia akan melampaui batas-batas yang sempit dari perhatian yang khusus dan kepentingan individual.
Harold Titus (1959) mengemukakan pengertian filsafat dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Dalam arti sempit filsafat diartikan sebagai sains yang berkaitan dengan metodologi atau analisis bahasa secara logis dan analisis makna-makna. Filsafat diartikan sebagai “science of science”, dimana tugas utamanya memberi analisis secara kritis terhadap asumsi-asumsi dan konsep-konsep sains, mengadakan sistematisasi atau pengorganisasian pengetahuan pengetahuan. Dalam pengertian yang lebih luas, filsafat mencoba mengintegrasikan pengetahuan manusia yang berbeda-beda dan menjadikan suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, hidup, dan makna hidup.
Pada bagian lain Harold Titus mengemukakan makna filsafat, yaitu:
1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta;
2. Filsafat adalah suatu metode metode reflektif, dan penelitian penaran;
3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah;
4. Filsafat adalah seperangkat teori dan system berpikir.

Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Dalam kegiatan ini manusia akan berusaha untuk mencapai kearifan dan kebajikan. Kearifan merupakan buah yang dihasilkan filasafat dari usaha untuk mencapai hubungan-hubungan antara berbgai pengetahuan, dan menetukan implikasinya baik yang tersirat maupun yang tersurat dalam kehidupan.
Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berfikir dapat dikatagorikan berfilsafat. Berpikir yang dikatagorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri, yaitu radikal, sistimatis, dan universal. Seperti dijelaskan oleh Sidi Gazalba (1973 : 43) :
Berpikir radikal, bepikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Bepikir itu tidak separuh-separuh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke unjungnya. Berpikir sistimatis ialah bepikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh keadaran dengan urutan yang bertanggung jawan dan saling hubungan yang teratur. Berpikir universal tidak berpikir khusus, yang hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup kesulurahan.
Berfilasafat adalah berpikir dengan sadar, yang mengandung pengertian secara teliti dan teratur, sesuai dengan aturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Berpikir filosofi harus dapat menyerap secara keseluruhan apa yang ada pada alam semesta, tidak sepotong-sepotong.
 Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa berfilsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha mencapai kebijakan dan kearifan. Filsafat berusaha merenungkan dan membuat garis besar dan masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang pelik dari pengalaman umat manusia. Dengan kata lain filsafat sampai kepada merangkup (sinopsis) tentang pokok-pokok yang ditelaahnya.

B. MODEL-MODEL FILSAFAT
Filsafat sebagai metode berpikir, maupun sebagai hasil berpikir radikal, sistimatis, dan universal tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, dapat dibedakan menjadi tiga model, yaitu filsafat spekulatif, filsafat preskriptif dan filsafat analitik.
1. Filsafat Spekulatif
 Filsafat spekulatif adalah cara berpikir sistimais tentang segala yang ada. Mengapa mereka menggunakan cara berpikir cara demikian? Mengapa mereka tidak mencari kandungan yang tersurat, seperti halnya ahli sains mempelajari aspek khusus realita? Jawaban-nya adalah bahwa jiwa manusia ingin meliha segala sesuatu sebagai sesuatu keseluruhan. Mereka ingin memahami bagaimana menemukan totalitas yang bermakna dari realitas yang berbeda dan beraneka ragam.
 Filsafat spekulatif tergolong filsafat tradisional. Dalam hal ini filsafat dianggap sebagai sesuatu bangunan pengetahuan (body of knowledge). Filsafat Yunani kuno, seperti filsafat Socrates, Plato, Aristoteles, dan filsafat lainnya, dapat dijadikan paradigma bagi seluruh filsafat spekulatif. Filsafat spekulaitf merenungkan secara rasional spekulatif seluruh persoalan manusia dalam hubungannya dengan segala yang ada pada jagat raya ini. Filsafat berusaha untuk menjawab suluruh pertanyaan yang berkaitan dengan manusia : eksisitensinya, fitrahnya di alam semesta ini, dan hubungannya dengan kekuatan-kekuatan supernatural. Filsafat spekulatif memiliki rasa kebebasan untuk membicarakan apa saja yang ia sukai. Mereka berasumsi bahwa manusia memiliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi, sehingga Aritoteles sendiri mengemukakan bahwa manusia merupakan : animal rationale. Dengan penalaran intelektualnya, mereka berusha membangun pemikiran tentang manusia dan masyarakat.
 Plaoto sebagai pelopor filsafat idealisme klasik membahas semua persoalan yang berkaitan dengan manusia, masyarakat, dan eksistensi manusia dalam lama ini. Ia bebicara tetentang susunan masyarakat, politik (pemerintahan), nilai/moral, pengetahuan dan kebenaran, dan juga sampai pembicaraan kekuatan supernatural Aristoteles sebagai pelopor realisme klasik membicarakan politik biologi, fisika, nilai abadi, badan, dan jiwa. John Dewey membangun filsafat pragmatisme, berbicara tentang manusia, jagat raya yang bersifat fisik dan natural, berbicara tentang pengetahuan empiris dan teruji oleh pengalaman, dan juga berbicara tentang nilai. Tetapi, filsafat Dewey tidak sampai pada pembicaraan supernatural. Pada dasarnya Dewey berpikir spekulatif, walaupun pada akhirnya ia berpandangan eksperimental.
Filsafat spekulatif mencari keteraturan dan keseluruhan yang diterapkan, bukan pada suatu intem pengalaman khusus, melainkan pada semua pengalaman dan pengetahuan. Singkatnya, filsafat spekulatif adalah suatu upaya mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berpikir dan keseluruhan pengalaman.
2. Filsafat Preskrpitif
 Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standard) penilain tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, dan penilaian tentang seni. Filsafat preskriptif menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Ia menyatakan bahwa nilai dari suatu benda pada dasarnya inheren dalam dirinya, atau hanya merupakan suatu gambaran dari pikiran manusia.
 Bagi ahli psikologi eksperimental, keanekaragaman perbuatan manusia secara moral bukan baik dan bukan jahat, melainkan merupakan suatu bentuk sederhana dari tingkah laku yang dipelajari secara empiris. Bagi pendidik dan ahli filsafat preskriptif, menilai suatu perilaku ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Ahli filsafat preskriptif berusaha menemukan dan megajarkan prinsip-prinsip perbuatan yang bermanfaat, dan mengapa harus demikian. Jadi, filsafat preskriptif, memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.
3. Filsafat Analitik
 Model analitik terdapat dua golongan, yaitu analitik linguistik dan analitik postifistik logis. Model analitik linguistik mengandung arti bahwa filsafat sebagai analisa logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah. Para filosof memakai metoda analitik linguistik untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian bahasa. Beberapa filsuf mengatakan bahwa analis tentang bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis cones sebagai satu-satunya fungsi filsafat. Para filsuf analitik seperti G.E Moore, Bertrand Russell, G.Ryle, dan yang lainnya bependapat bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dalam kehidupan sehari-sehari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboraterium para filsuf, yaitu tempat menyamai dan mengembangkan ide-ide. Menurut Wittgenstein tanpa penggunaan logika bahasa, pernyataan-pernyataan akan tidak bermakna.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar